Penulis : Vicky Abu Syamil

Judul     : “POLIGAMI, DALAM TIMBANGAN ORANG BERAKAL”

Allah ta’ala berfirman : “…….dan nikahilah wanita wanita lain yang kamu senangi dua, tiga atau empat……..” Beeuuhh bagi sebagian pria, ketika ia membaca ayat ini (secara parsial) seperti dapat bonus atau durian runtuh, pasalnya ayat ini dengan tegas dan gamblang membolehkan seorang pria (muslim) untuk menikahi wanita (muslim) lainnya lebih dari satu orang dengan batasan jumlah empat.

Girang ? Gimana gak girang coba? Asal baca tanpa tedeng aling aling langsung menjadikan ayat itu sebagai pembenaran/justifikasi tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi bagaimana maksud dan tujuan sebenarnya ayat itu. Inilah masalahnya, selain karena faktor takdir, banyaknya masalah di dalam rumah tangga Poligami itu akibat dari sikap beberapa oknum yang sembarangan mengaplikasikan anjuran ayat itu yang berdampak pada banyaknya perceraian yang buruk dari rumah tangga Poligami akibat ke‘bahlol’an pengamalnya.

Coba jika kita cermati dengan seksama, bahwa istri dan anak adalah amanah, tentu ketika seorang pria sudah mengambil keputusan untuk berpoligami, tentulah berbagai strategi sudah ia siapkan dan berbagai amalan sudah ia lakukan utk mem”backup” resiko resiko yang akan terjadi pasca pernikahan kedua, ketiga dan selanjutnya. LOE FIKIR PUNYA BINI 2,3,4 itu ENAK TERUUUSSS????

1. PUNYA BINI GAK CUMA DITIDURIN TAPI JUGA HARUS DINAFKAHI. 
Ini pertimbangan pertama mungkin, jika satu istri saja terbilang “morat marit” maka bagaimana jika bertambah jumlah istrinya? Dalam perhitungan matematis, jika 1 istri membutuhkan minimum payment Satu Juta Rupiah, maka jika bertambah jumlah istri tentu akan bertambah pula jumlah minimum payment yang harus dibayarkan. Udah di fikir?
Maka cukuplah ayat ini menjelaskan : “Kaum laki laki adalah pemimpin bagi wanita, oleh karena allah telah melebihkan sebagiaan mereka laki laki atas sebagian yang lain wanita, dan karena mereka laki laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…….” (Annisa: 34).
Nah, salah satu sifat kepemimpinan, atau diakuinya kepemimpinan seorang pria diatas wanita itu karena si pria bisa menafkahi istrinya, nah kalo ada suami yang masih nebeng kepada istrinya dalam hal nafkah, itu namanya Pemimpin atau Pengikut ??? MIKIR !

  2. PUNYA BINI GAK CUMA DINAFKAHI, TAPI DIBINA DAN DI DIDIK 
Di didik agar Shalihah, kalo cuma sekedar tidur diranjang, kebo juga bisa. KALO SEKEDAR BEKERJA dan cari nafkah KERA JUGA KERJA! (Buya hamka). Persoalannya adalah sampai dimana kemampuan kita sebagai pemimpin/suami menjadikan mereka istri yg shalihah? Sudah benarkah tauhid kita?? Sudah baikkah amalan kita? Atau sekedar SYAHWAT saja yang mendominasi??? Ah kelez plis deh ah……

Udah deh, sebenarnya ane males nulis “syubhat” kayak gini, cuma gregetan aja sama beberapa pria yang gak mempesonah itu yang sotoy mau nyeruduk aja berpoligami tanpa punya pertimbangan seolah olah akal mereka terbius oleh syahwat saja.

Ayolah, “Al ilmu Qobla amal“, ilmu itu didahulukan sebelum amal. Sungguh, tiap jiwa akan didekatkan pada takdirnya. Dan perihal jodoh telah allah tentukan sepuluh ribu tahun sebelum bumi dan langit diciptakan. So, tugas kita adalah ikhtiar dan mengoptimalkannya.

Demikian “syubhat” hari ini dari pria mempesooonaaahhh…. ‪

#‎ngilu_nulisnya_beneran_deh‬ Bogor, 25/01/2016.